Posted by tafsir alternatif
» Saturday, 3 November 2018

Diri sendiri sebagai seorang manusia yang menjalin hubungan dengan manusia lain, dalam segala hal termasuk dalam keyakinan akan sesuatu selalu ditemukan adanya perbedaan dan persamaan. Perbedaan dalam keyakinan memicu konflik manakala keyakinan seseorang itu dipaksakan kepada orang lain, dalam tingkat yang paling parah adalah adanya saling membunuh karena adanya pemaksaan tersebut. Dimulai dari seseorang yang memberikan nasihat kepada orang lain tentang keyakinannya, keyakinannya yang ia paksakan agar orang lain juga berkeyakinan yang sama dengannya, akan tetapi orang yang dinasehati itu juga punya keyakinannya sendiri. Terjadilah semacam gesekan, bisa dimulai dari saling ejek, saling klaim paling benar dengan keyakinannya, yang paling parah adalah kekerasan pada fisik. Disinilah makhluk yang disebut syetan pandai membuat tipu daya agar manusia saling berselisih. Lantas bagaimana menyikapi adanya perbedaan keyakinan agar tak berujung pada konflik? Yaitu dengan segera menyadari gesekan tersebut lalu kemudian menghindarinya dan mulai mencari persamaan. Bagi orang yang memaksakan keyakinannya, ia harus mulai berhenti memaksakan, dan bagi orang yang menerima pemaksaan dari yang memaksakan, seberapapun menyakitkan, ia harus mulai bisa memaafkannya. Simpan keyakinan yang berbeda itu di dalam hati dan mulailah mencari kesamaan dan keluarkan persamaan itu. Realisasikan apa yang menjadi persamaan itu bersama-sama, maka yang akan terjadi bukanlah konflk akan tetapi persatuan yang berbuah kedamaian. Berbeda-beda dalam keyakinan akan tetapi bersatu di dalam persamaan seperti bulir-bulir Pancasila, kelima sila itu adalah titik kesamaan yang menyatukan perbedaan-perbedaan dari sabang sampai merauke. Dengan semboyannya “berbeda-beda tetapi tetap satu tujuan”. mengapa konflik masih saja terus terjadi? Ya karena masih adanya pemaksaan berbedaan keyakinan dan berfokus di situ, sedangkan persamaan dianggap tidak begitu penting, padahal itulah yang akan menyatukan. Tidak ada paksaan dalam nasehat, karena agama adalah nasehat). bagimu nasihat yang kamu yakini dan bagiku nasehat yang aku yakini. Mari kita mulai berhenti tentang nasehat keyakinan itu, yang membuat kita saling bercerai berai, kita simpan itu di dalam hati kita masing-masing, kita jadikan itu sebagai sebuah rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa, berhenti saling memaksakan diantara kita dan mari kita mulai mencari titik persamaan agar tercipta persatuan, jalinan kerjasama, dan kedamaian antar umat manusia. Jika harus ada aturan main, mari kita rumuskan bersama-sama dan kita sepakati bersama. Wallohu’alam
ADS HERE !!!