Posted by tafsir alternatif
» Friday, 9 November 2018

Layaknya sebuah bangunan, setidaknya ia terbentuk dari beberapa komponen yaitu pondasi, tiang, tembok, dan atap. Bangunan biasanya berfungsi sebagai tempat berlindung, berteduh atau dari ancaman yang datang dari luar. Setiap orang yang mempunyai bangunan ini akan selamat dan aman. Berbicara mengenai pondasi, ia haruslah sesuatu yang kuat yang bisa menopang bangunan agar tetep berdiri kokoh. Pondasi ini tidak harus terlihat karena ia berada di dalam. Aku menyaksikan realita bahwa orang-orang membuat patung, tapi setelah itu mereka meminta pertolongan kepada patung yang mereka buat sendiri. Mereka seperti tidak menjadi manusia seutuhnya. Akal sehat mereka tidak berjalan. Karena sejatinya yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk lainnya adalah akalnya. Apa mereka tidak berpikir? Mereka yang membuat patung, lalu mereka minta pertolongan kepada patung itu. Kalo mau minta pertolongan ya kepada orang yang memuat patung tersebut, bukan pada patung yang tidak bisa berbuat apa-apa itu. Mungkin saking kentalnya keyakinan mereka akan patung tersebut sampai-sampai akal sehat tidak berjalan karena rasa takut menyalahi keyakinannya. Mereka percaya patung itulah yang akan mendekatkan mereka pada Tuhannya, jadi mereka takut pada patung tersebut. Jika keyakinan mereka seperti itu, mereka tidak akan selamat. Mereka akan mudah ditakut-takuti oleh orang lain yang sedang menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan dirinya sendiri. Keyakinan yang akal sehat tidak digunakan karena tertutupi oleh rasa takut akan selalu goyah, tidak akan menancap dengan kuat. Seharusnya mereka berkeyakinan kepada suatu sebab yang tidak didahului oleh sebab lain. Patung itu akibat dari suatu sebab yaitu si pembuat patung. Pembuat patung juga adalah akibat dari sebab orang tuanya. Orang tuanya juga adalah sebab dari orang tuanya lagi terus seperti itu sampailah mereka di sebab yang tidak ada sebab lain, sebab yang menjadikan adanya seluruh alam semesta ini besrta isinya. Karena jika ini tidak berujung maka akal sehat tidak bisa menerimanya lagi. Itulah yang harus menjadi dasar keyakinan mereka. Sebab yang tidak ada sebab lain yang mendahuluinya. Mereka harus meniadakan keyakinan mereka pada sebab yang masih memiliki sebab, seperti patung. Mereka sebelumnya telah mengenal nama sebab yang tidak ada sebab lain lagi yang mendahuluinya yang aku maksudkan itu, yaitu bernama Alloh. Nama itu tersusun dari beberapa komponen. Alif lam ma’rifat (yang diketahui) ditambah kata “lahu” (padanya) menjadi Alloh. Arti nya padanya yang telah diketahui. Apa yang telah diketahui? Ya itu tadi sebab, yang tidak ada sebab lain lagi yang mendahuluinya. Aku ingin orang-orang juga memiliki pondasi yang sama seperti yang aku miliki agar mereka bisa selamat, jadi mereka juga harus percaya terlebih dahulu padaku. Kepercayaan ini menjadi pondasi berikutnya. Aku harus bisa sampai mendapatkan al-amiin (yang dapat dipercaya) terlebih dahulu sebelum aku hendak mengoreksi kesalahan mereka akan keyakinan mereka. Wallohu’alam
ADS HERE !!!