Posted by tafsir alternatif
» Friday, 2 November 2018

Kita sering berbeda dalam memahami suatu realitas, baik realitas yang terjadi hari ini ataupun realitas yang terjadi di masa lalu. Apalagi jika realitas masa lalu itu dipahami dari teks, ditambah lagi teks tersebut telah berumur ribuan tahun, perbedaan dalam memahami adalah sebuah keniscayaan. Lalu sebenarnya apa yang menjadi penyebab sehingga manusia terkadang tidak sama dalam memahami sesuatu? Setidaknya ada tiga hal yang menjadi penyebabnya, yang dalam ilmu filsafat (Cinta Kebijaksanaan) disebut sebagai iduknya ilmu pengetahuan, yaitu: 1. Sumber apa yang ia pahami dalam memahami sesuatu, 2. Bagaimana cara ia memahami sesuatu 3. Bagaimana sesuatu yang telah ia pahami tersebut menghasilkan sebuah nilai tatkala direalisasikan dalam kehidupan nyata dan memiliki manfaat. Hasil dari pemahaman inilah yang menjadi produk pemikiran manusia yang berbeda-beda, yang memiliki keunikannya masing-masing. Seperti kue buatan manusia, yang memiliki keunikannya tersendiri dan rasanya yang beragam itu tergantung dari bahan-bahan apa yang ia pakai, bagaimana cara ia mengolah bahan dengan komposisi yang pas, terakhir bagaimana kue itu bisa menghasilkan sebuah nilai dihadapan orang yang mencicipinya dan menghasilkan manfaat. Tatkala ketiga tahapan itu sudah terlampaui, jadilah ia sebuah ilmu yang memiliki nilai manfaat yang berupa ilmu pengetahuan. Ilmu yang berfungsi mempermudah kehidupan manusia. Karena dengan ilmu hidup jadi lebih mudah. Ilmu jangan sampai beralih fungsi. Ia jangan sampai dijadikan untuk menyombongkan diri, merasa paling benar, memicu konflik, memicu peperangan. Permudahlah, jangan dipersulit, jangan melakukan sesuatu yang menyebabkan ia lari darimu. Kenabian telah ditutup, selanjutnya diserahkan kepada pewarisnya yaitu orang-orang berilmu. Yang dapat menghasilkan suatu nilai yang bermanfaat bagi manusia di setiap zamannya untuk mempermudah kehidupannya. Wallohu’alam
ADS HERE !!!